Sejarah Desa

31 Januari 2017 19:18:39 WIB

Sejarah Desa Bomo

Di ceritakan oleh narasumber bahwa Desa Bomo berbatasan dengan Desa Dersono, di antara Desa Bomo dan Desa Dersono dibatasi oleh sungai yang tepatnya ditengah sungai terdapatlah sebuah Goa. Goa tersebut bernama PERTAPAAN BALA DEWA.

Didalam goa pertapaan BALA DEWA di tempati oleh seorang pertapa yang bernama Raden Bomo Naroko Suro. Raden Bomo Naroko Suro adalah seorang petapa yang gigih dan pemberani. Setelah sekian tahun bertapa, beliau ingin menyudahi pertapaannya. Dan ingin hidup di alam luar yang indah. Raden Bomo Naroko Suro keluar dari goa dan melihat pemandangan alam yang luas. Akhirnya Raden Bomo Naroko Suro berjalan kearah menuju dari mana datangnya arus air itu mengalir.

Namun Raden Bomo Naroko Suro tidak sampai ujung mata air, karena ditengah perjalanan beliau telah menemukan suatu tempat tanah lapang yang luas dan subur. Beliau memulai hidup yang baru dan membuka lahan yang subur dan penuh dengan keindahan, demi kelangsungan hidupnya.

Raden Bomo Naroko Suro kemudian berkelana melihat keadaan alam diluar sana. Beliau berjalan kearah naik bukit tinggi dan terjal. Ditengah hutan banyak pohon yang besar dan daunnya sangat lebat. Disana Raden Bomo Naroko Suro bertemu dengan seekor kera raksasa, namun kera tersebut merupakan jelmaan seseorang yang selalu menutup kedoknya. Ternyata orang tersebut adalah penghuni pohon besar yang berdaun lebat tadi. Pohon itu bernama WARUKU untuk mempermudah ingatannya wilayah ini di beri nama dengan sebutan DOKWARU.

Dengan kelanjutan perjalanannya Raden Bomo Naroko Suro menuju kearah timur. Disana Raden Bomo Naroko Suro dikejutkan dengan semerbaknya harum bunga, dan meronanya alam-alam disana. Warna Merah merona yang datang dari pohon rindang, setelah di dekatinya buah tersebut adalah buah JAMBU. Akhirnya RAden Bomo Naroko Suro menyebutnya dengah wilayah JAMBU.

Namun tidak hanya sampai disini perjalanan Raden Bomo Naroko Suro. perjalanan dilanjutkan kearah utara. Ditengah perjalanannya beliau terhambat oleh rerumputan yang lebat dan daunnya yang merambat, hingga sulit untuk dilewati. Rupanya rumput itu berbunga dan berbuah. Rasa Buah Itu sangatlah pait, apabila daunnya diamakan hewan, maka hewan itu akan keracunan dan mengakibatkan kematian. Ternyata rumput tersebut KORO LOKE. dan untuk mempermudah menyebutnya maka wilayah ini diberi nama wilayah KORO.

Tidak begitu jauh dari wilayah KORO, Raden Bomo Naroko Suro melihat lembah yang luas dan tampak sebuah pohon yang besar dan rimbun. Karena hari semakin gelap Raden Bomo Naroko Suro berniat untuk beristirahat dibawah pohon itu. Namun Karena masih sangat angker dan wingit, beliau merasa kesulitan untuk berteduh dibawahnya. HIngga akhirnya Raden BOmo Naroko Suro mengucapkan salam. Setelah mengucapkan salam barulah Raden Bomo Naroko Suro bisa mendekati pohon dan berteduh dibawahnya. untuk mengenang riwayatnya maka tempat itu diberi nama wilayah SALAM.

Raden Bomo NAroko Suro melanjutkan perjalanannya kearah utara menuju sebuah lembah yang berada di antara bukit-bukit. Disana Raden Bomo Naroko Suro merasa kehausan dan berniat untuk mencari sumber mata air, namun belum juga didapatnya. Justru Raden Bomo Naroko Suro menemukan LUWENG yang luas dan besar. Raden Bomo Naroko Suro ingin mengambil air didalamnya, namun terhalang oleh seseorang yang bertubuh besar, orang tersebut bernama Gebang Onggo Karso. Terjadilah pertarungan antara Raden Bomo Naroko Suro dan Gebang Onggo Karso, akhir pertarungan Raden Bomo Naroko Suro lah yang paling unggul, sedang Gebang Onggo Karso masuk kedalam luweng tersebut. Demikian riwayat Gebang Onggo Karso yang hingga sampai sekarang disebut wilayah GEBANG.

Sampai disini sebetulnya Raden Bomo NAroko Suro ingin segera kembali kewilayah asal. Namun ditengah perjalanan Raden Bomo Naroko Suro menemukan tempat yang indah nyaman dan strategis. Tempat ini dipergunakan sebagai tempat pertemuan para sesepuh atau sering disebut KUMPULE PORO PEPUNDEN. Akhirnya diambil keputusan bahwa nama tempat ini dinamakan PULE.

Perjalanan Raden Bomo Naroko Suro dilanjutkan hingga kehutan angker dan wingit. Disana Raden Bomo Naroko Suro banyak menemukan hal-hal yang sangat terlarang. Misalnya apabila ada seseorang yang memakai pakaian berwarna hijau gadung, maka orang tersebut akan bisa gila dan bahkan sakit yang menyakitkan. karena saking banyaknya larangan-larangan Raden BOmo Naroko Suro menyebutnya wilayah tersebut dengan NGLARANGAN. 

Dengan perjalanannya yang cukup lama dan melelahkan, Raden Bomo Naroko Suro ingin rasanya kembali ketempat pemukimannya. Namun dilihatnya masih ada dua buah bukit lagi yang harus dilewati. Dengan perasaan yang bimbang dan dirasa kepalang tanggung beliau tetap melanjutkan perjalanannya. Karena waktu yang sudah gelapdan merasa lelah beliau memutuskan untuk beristirahat di tempat ini. Karena perasaan diatas yang merasa bimbang dan kepalang tanggung, beliau berpikir untuk memberi nama tempat ini dengan sebutan TANGGUNG.

Ditinggalkannya wilayah TANGGUNG, kemudian Raden Bomo Naroko Suro menuju kedua bukit yang tinggi dan berjajar tersebut. Bukit yang sebelah utara yang kelihatan hijau dan redup, namun bukit yang sebelah selatan terlihat rindang dan hanya rerumputan yang kelihatan hijau. SEtelah ditempat bahwa  bukit sebelah utara penuh dengan pohon yang besar dan berdaun lebat. Ternyata pohon tersebut adalah pohon PUCUNG. Untuk mengingatnya bukit tersebut diberi nama bukit PUCUNG.

Lain dengan bukit sebelah selatan yang disana banyak ditumbuhi rerumputan yang daunnya penuh duri dan runcing. Jenis tumbuhan ini namanya konas. Tumbuhan ini sangat mirip dengan tumbuhan Nanas. Untuk membedakan antara dua bukit tadi maka yang sebelah selatan dinamakan bukit NANAS.

Akhirnya Raden BOmo Naroko Suro turun dari bukit menuju wilayah yang pertama dibukanya, nah disanalah Raden Bomo Naroko Suro membentuk suatu pemerintahan. Pemerintahan Yang pertama dipimpin oleh seorang demang, setelah terbentuknya  demang tidak lama Raden Bomo Naroko Suro. Maka Untuk mengenang sejarah ini di ambil keputusan bahwa nama wilayah ini disebut wilayah Bomo. Setelah pemerintahan kademangan berakhir wilayah ini dipimpin oleh Kepala Desa :

  1. WIRODIKROMO ( DEMANG 1 ) Tahun 1769-1826 (57 Tahun).
  2. KROMODIKARYO ( DEMANG 2 ) Tahun 1826-1878 (52 Tahun).
  3. ATMOSULOYO ( LURAH 1 ) Tahun 1878-1904 (26 Tahun).
  4. P. MARTODIKROMO ( LURAH 2 ) Tahun 1904-1908 (4 Tahun).
  5. LONTRONG ( LURAH 3 ) Tahun 1908-1926 (18 Tahun).
  6. S. ATMOPAWIRO ( LURAH 4 ) Tahun 1926-1946 (20 Tahun).
  7. KASANADI ( LURAH 5 ) Tahun 1946-1946 (3 Bulan).
  8. S. ATMOPAWIRO ( LURAH 6 ) Tahun 1946-1971 (25 Tahun).
  9. C. MARGONO ( LURAH 7 ) Tahun 1971-1977 (5 Tahun).
  10. TURAMI ( LURAH 8 ) Tahun 1977-1999 (22 Tahun).
  11. SURATMI ( LURAH 9 ) TAhun 1999-2007 (8 Tahun).
  12. SURATMI ( LURAH 10 ) TAhun 2007-........ (Sekarang).

Jadi pemerintahan Desa Bomo sekarang dipimpin Ibu. SURATMI, S.Pd. Dari sekian banyak wilayah yang di buka Raden Bomo Naroko Suro, akhirnya menjadi kesimpulan bahwa wilayah Desa Bomo dibagi menjadi 11 dusun yakni : Dokwaru, Jambu, Koro, Salam, Gebang, Pule, Nglarangan, Tanggung, Pucung, Nanas dan Bomo.

dikutip dari : Sindopos.com

 

 

 

Media Sosial

FacebookYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Lokasi BOMO

tampilkan dalam peta lebih besar